Minggu, 08 Juli 2012


Duka Panjang Dalam Cerita Luka Sahabat-Mu
Tres, akhirnya kamu pun pergi meninggalkan kami.
Padahal aku pingin bertemu kamu untuk menceriterakan banyak hal kepada kamu.
Memang aku tau kamu lagi sakit dari teman kerja kamu dari dua bulanan yang lalu, katanya kamu sakit parah, masuk rumah sakit, lalu entah mengapa kamu keluar, apakah kamu kurang biaya? Bukankah ada program pemerintah untuk masyarakat miskin sehingga kamu tidak perlu kuatir tentang biaya?
Aku memang sedih dan selalu berdoa buat kesembuhan kamu, karena sekali lagi, aku butuh kamu, aku percaya kamu bisa memahami apa yang aku alami tentang hubungan aku dengan kakak kamu. Aku selalu merasa kamu akan menjadi adek kami yang baik.
Saat ini sebenarnya aku menyesal tidak selalu hubungi kamu lewat handphone, padahal aku pingin sekali untuk itu, juga ingin mengetahui kampung kita serta semua keluarga kita disana.
Saat jumpa kamu, tiga bulan yang lalu, aku tidak menemukan kejanggalan padamu, kamu bahkan terlihat riang, seperti memang sudah menjadi pembawaanmu.
Saat itu kamu bertanya aku mau ke kampung atau tidak, karena itu bertepatan dengan bapak kamu yang hendak membayar belis karena selama pernikahan yang belasan tahun ini kewajiban adat itu belum terlunaskan. Sebenarnya aku pingin datang melihat prosesi adat itu selain juga rindu bapak serta mama Frans, tapi terpaksa aku jawab tidak sebab ada persoalan yang membuat aku enggan kesana.
Sebenarnya itu pula yang akan aku katakan ke kamu.
Tres, sekalipun Evodini dusun dari desa Ikan Tuanbes, kecamatan Sasi Tamean itu bukanlah tempat kelahiranku, bahkan bukan pula sukuku, tapi disana aku mengalami banyak hal, suka maupun duka.
Kamu tau aku bahagia karena disana terukir sayangku buat Ria, yang akhirnya sangat membuatku berduka karena kepergiannya yang begitu cepat diusia balitanya. Disaat dia lagi lucu-lucunya, cantik dan pintar.
Kamu pasti tau seperti juga semua orang-orang di kampung sana, bahwa aku teramat menyayangi Ria, keponakanmu itu.
Bahkan satu alasan yang paling dominan yang membuatku selalu kerasan di kampung adalah karena selalu pingin dekat sikembar Ria dan Rio.
Kamu tau kan, keduanya lucu banget!
Dan akhirnya Ria pergi, dan kejadian-kejadian berikutnya membuat aku tak lagi kesana. Kamu mesti tau, itu semuanya membuat aku down, termasuk akibat dari perbuatan beberapa orang disana yang kurang bermoral watak serta tingkah lakunya, kamu tau itu.
Belum berakhir baik keadaan, justru aku dengar kabar dari sopir atasannya bapak Piet, saat aku mencari ke kantornya, bahwa bapak Piet lagi tidak masuk karena kepala dinasnya ke Kupang. Dia menambahkan kalo sebelumnya bapak Piet juga beberapa minggu tidak masuk kantor karena kenarian anak piaranya yang sebelumya sakit berat. Aku terhenyak, siapa lagi kalo itu bukan kamu, Tres? Apalagi aku dengar seminggu yang lalu bahwa kamu sudah sulit tertolong, O2 bahkan akan dilepas.
Aduh, Tres, aku sedih, belum dua tahun aku kehilangan Ria, kini malah kamu juga kepergianmu ini semakin menambah panjang duka hatiku.
Tres, kepergian Ria belum bisa aku lupakan sedikitpun, tapi mengapa kamu pun lalu pergi? Kepada siapa lagi aku menceritakan perasaan gundah hati ini tentang orang-orang di kampung kita?
Tres, rasakah kamu kalo dari jauh aku selalu membisiki kata-kata semangat maupun doa buat kamu?
Dengarkah kamu kalo aku selalu membisiki dari sini, kamu sakit apa?
Tres, kamu pasti dengar permintaanku agar kamu bertahan lalu sembuh agar kamu bisa mendengar panjangnya cerita dukaku di Kampung kita.